Tanya Jawab Seputar UI UX Desain — Bagian 1

Bagian dari program Mentoring UI UX Designer oleh Dilo Surabaya

Photo by Matthew Henry from Burst

Kali ini saya berkempatan untuk berbagi dalam program Mentoring UI UX Designer yang diinisiasi oleh Dilo Surabaya.

Berkesempatan menjadi mentor di program Mentoring Dilo Surabaya

Program tersebut berkonsep nantinya partisipan yang mengikuti acara bisa bertanya secara langsung, kemudian akan saya jawab secara live.

Acaranya masih besok malam, namun karena saya sudah mendapatkan data pertanyaannya, saya memutuskan untuk menuliskannya di medium sebagai persiapan sehingga misalnya ada hal yang kurang saya tahu saya bisa cari tahu terlebih dahulu.

Dari form pendaftaran yang dikirim oleh Panitia, telah ada 12 partisipan dengan berbagai pertanyaannya.

Baik, mari kita bahas satu-persatu.

Pertanyaan dari Muhammad Maliki

Struktur untuk job mengenai UI atau UX apa saja?

Untuk pertanyaan pertama ini saya ingin klarifikasi lagi apakah yang dimaksut seperti struktur di perusahaan atau lebih kepada tanggung jawab sebagai UI UX Designer.

Katakanlah yang dimaksut adalah tanggung jawab sebagai UI UX Desainer.

Biasanya tanggung jawab kita sebagai UI UX Desainer sangat tergantung dengan kondisi tim yang ada.

Kalau kita menjadi satu-satunya desainer, maka kemungkinan besar kita akan terlibat dalam keseluruhan proses. Dari awal memikirkan konsep dan berkolaborasi dengan tim hingga mendesainnya menjadi suatu desain yang matang atau sering dibahasakan dengan istilah High Fidelity Desain.

Saat kita punya tim, katakanlah 2–3 orang. Maka pekerjaan kita mulai semakin ringan. Bisa jadi ada yang spesilias ngerjain UX identik dengan riset produk, memahami masalah user, memikirkan konsep, membuat kerangka layout. Lalu ada juga yang spesialis UI yang melanjutkan konsep kerangka yang dibuat oleh UX Desainer untuk ditambahkan warna, grafis, ilustrasi, dan elemen lainnya seperti motion.

Untuk perusahaan yang besar yang memiliki desainer yang cukup banyak katakanlah lebih dari 15, maka ada posisi yang lain yang lebih spesifik.

Disalah satu bagian di tulisan dibawah ini saya telah menuliskan beberapa roles umumnya yang terdapat diperusahaan besar.

UX Researcher
Melakukan riset mendalam tentang perilaku pengguna, pain point dari pengguna, hingga alternatif opportunity yang bisa diambil oleh tim. Beberapa metode yang biasanya dilakukan seperti User Interviews, Observasi, Survey, Usability Test, dll.

UX Designer / Product Designer
UX Designer memikirkan bagaimana alur suatu produk menjadi efisien, efektif dan terasa menyenangkan bagi user.

Beberapa metode yang biasa dilakukan seperti membuat flowchart dan wireframe.

UI Designer
Seorang UI Designer tanggung jawabnya mendisain High Fidelity untuk setiap proses dalam sebuah produk dan membuat prototype yang yang sudah bisa di klik.

UX Copywriter
UX Copywriter tugas nya membuat teks, konten atau label pada suatu produk lebih humanis, engaging, dan lebih jelas pesan yang disampaikan untuk user.

UX Writer membuat text pada aplikasi lebih jelas maksutnya

Graphic Designer
Mendisain hal-hal grafis yang dibutuhkan disuatu produk seperti ilustrasi, icon, dan banner.

Pertanyaan dari Melisa Krisnawati, Mahasiswi

Desain yang bagus untuk aplikasi e learning/video conference seperti apa? Tips memilih warna supaya kelihatan kontras seperti apa?

Untuk menjawab pertanyaan yang pertama tentang desain yang bagus untuk aplikasi seperti apa. Kita bisa mencoba menggunakan dan mengamati dari aplikasi yang sejenis dipasaran saat ini.

Bagaimana ulasan dari pengguna kebanyakan karena biasanya ulasan menggambarkan apakah suatu aplikasi itu bagus atau nggak.

Oh iya kita juga perlu menyamakan persepsi lebih dahulu tentang desain yang bagus itu seperti apa.

Misalnya definisi bagus yang menurut kita adalah saat pengguna bisa menggunakan aplikasi dengan mudah serta tersedianya fitur-fitur yang mereka butuhkan.

Setelah kita punya definisi bagus

Lalu kita coba tulis poin-poin nya sebanyak mungkin kira-kira apa hal-hal yang membuat aplikasi tersebut bagus.

Setelah mencatatnya, kita telah punya setidaknya bahan yang bisa gunakan untuk membuat aplikasi serupa tentu dengan perbedaan yang ingin kita buat.

Desain yang bagus kebanyakan dihasilkan dari proses perbaikan yang cukup panjang dan melibatkan pengguna secara langsung.

Oke selanjutnya pertanyaan yang kedua dari Melisa tentang warna kontras.

Tentang kontras sendiri ada ilmu khusus yang membahasnya yakni WCAG singkatan dari Web Content Accessbility Guidelines. Lebih detailnya kamu bisa baca di website resmi yang membahasnya.

Secara singkat berikut poin-poin nya

  • WCAG bertujuan agar aplikasi dan web yang kita desain bisa digunakan oleh orang-orang dengan keterbatasan seperti buta, buta warna, dan tuli.
  • Warna berperan cukup dalam WCAG khususnya dalam penggunaan background dan warna text diatasnya. Untuk cek apakah warna yang kita gunakan lolos untuk aksesibilitas, kamu bisa menggunakan tools Contast Checker
  • Selain warna, ada juga beberapa hal yang bisa kita lakukan agar desain kita semakin ramah terhadap disabilitas seperti membuat error state dengan icon dan tulisan ketimbang hanya warna.
Sumber SalesforceUX .

Bagaimana disabilitas (buta warna) melihat desain. Tebak ada berapa error di form pendaftaran diatas?

Sumber Salesforce UX.

Ternyata keempat inputan nya menampilkan error yang tidak terlihat jelas terhadap disabilitas. Hal ini membuat mereka yang disabilitas kadang dibingungkan dengan situati seperti diatas.

Untuk melengkapi jawaban ini tentang tips memilih warna, bisa bilang kita bisa mengamati desain-desain yang ada dan melakukan percobaan sendiri. Nantinya kita akan terbiasa dalam pemilihan warna tersebut.

Pertanyaan dari Irwan Syafani

Saya masih baru dalam bidang ini, jadi tolong jelasin
1. gimana bikin UI/UX yang outstand
2. Apa saja yang perlu diperhatikan
3. Trick and tips

Menjawab pertanyaan pertama, defini outstand dulu. Apakah yang dimaksut itu outstanding.

Pada dasarnya UI UX yang bagus itu apabila terjadi kombinasinya antara user banyak yang pakai produk kita tanpa kesulitasan hingga merasa ada wow faktor yang mengikat emosi mereka.

Untuk bikinnya tentu ada proses yang perlu kita lakukan. Biasa kita sebut desain proses.

Sebut saja desain proses yang populer

  • Design Thinking
  • Design Sprint
  • Double Diamond

Jadi mendesain digital produk bukan hal yang seperti art dimana kita bisa mengeluarkan suatu produk yang wow saat pertama kali. Namun ada proses perbaikan yang terus menerus untuk mencapai level outstanding yang dimaksut.

Pertanyaan kedua apa aja yang perlu diperhatikan

Pertama memahami masalah sepenuhnya yang mau kita selesaikan dengan riset, lalu mendefisinikan apa aja masalah yang mau kita selesaikan. Setelah itu baru kita buat konsep dan desain yang kemudian akan kita test ke pengguna dan melakukan perbaikan terus menerus.

Pertanyaan ketiga Tips dan Tricks.

Sepertinya luas sekali untuk menjawab pertanyaan ini. Namun mari kita sederhanakan.

Tips dan Trik mendesain produk yang lebih bagus secara UX

  • Memahami masalah yang sepenuhnya dialami oleh target pengguna dengan malakukan riset yang cukup
  • Melibatkan user dan berbagai tim untuk membuat konsep solusi.
  • Melakukan test konsep solusi tersebut terhadap pengguna secara langsung sehingga bisa mendapatkan reaksi secara langsung.
  • Menggunakan input dan feedback dari pengguna sebagai pertimbangan untuk mendesain produk
  • Menulis kata-kata di aplikasi seperti layaknya ngobrol dengan pengguna

Tips dan Trik mendesain produk yang lebih bagus secara UI

  • Kumpulkan referensi yang bagus-bagus dulu sebagai inspirasi style
  • Membuat beberapa alternatif. Misalnya mendesain halaman login. Kita bisa membuat berbagai alternatif halaman login, baru kemudian kita pilih.

Pertanyaan dari Muhammad Rizal Firmanda, Mahasiswa PENS

Apakah seorang ui ux designer harus punya skill yg baik juga di pemrograman front end seperti HTML, CSS, JS ( ReactJS, ReactNativ dll) ?

Jawaban singkatnya nggak harus.

Saya sendiri dulu sekolahnya ngoding, namun sekarang sudah lupa kalau harus ngoding.

Skill seperti pemrograman adalah sebuah nilai tambah bagi seorang UI UX Designer sama halnya dengan skill-skill yang lain.

Dengan tahu pemrograman kita akan lebih mudah untuk berkomunikasi dengan developer karena kita tahu bahasanya. Serta sebagai desainer kadang kita bisa aja kelewat batas mendesain suatu hal yang kalau diimplementasi itu susah bagi developer.

Dengan punya skill pemrograman hal seperti itu jarang terjadi karena kita tahu ngoding itu seperti apa.

Pertanyaan dari Anggita Satriya K, Dilo Malang dan INDUX

Hehe, nggak menyangka ada Mas Anggit atau Mas Satriya mengikuti acara ini. Saya yakin beliau ini sudah cukup pengalaman dibidang UX. Ini adalah sebuah bukti kerendahan hati beliau untuk terus belajar dan industri UX Desain di Indonesia.

Mas Anggit bertanya

Bagaimana pendapat anda tentang Desainer fundamentalists dan generalis?

Hmm, saya sendiri belum pernah mendengar istilah fundamentalist dan generalis sebelumnya. Mungkin saya butuh penjelasan dari Mas Anggit dulu nantinya.

Pertanyaan dari Faradillah Nurul Hikmah

Terimakasih atas kesempatan bertanyanya. Kalau misal kita mau re design aplikasi di playstore. Mungkin kita bisa research untuk user nya. Tp bagaimana cara ngambil data dari stakeholder, misal kita pengen tau dari sisi bisnis apa yg di inginkan? Adakah tips atau rekomendasi tahapan me redesign aplikasi dari playstore untuk dijadikan portfolio? Terimakasih

Ada, saya kebetulan pernah membuat studi kasus sederhana memperbaiki aplikasi yang ada di playstore.

Kamu bisa membaca nya Mendesain Ulang Aplikasi Kalender Indonesia (Dalam bahasa inggris)

Secara sederhana tahapan yang aku lakukan

  • Memahami masalah yang ada di aplikasi sekarang
  • Mendapatkan kebutuhan user saat ini yang belum terlayani dengan baik

Untuk memahami dan mendapatkan kebutuhan usernya kita bisa mentata dari review ada yang diplaystore teruma di rating-rating yang buruk.

Biasanya disana pengguna menuliskan keluhannya.

Selanjutnya kita definisikan apa yang mau kita lakukan. Kita bisa fokus untuk melakukan perubahan yang paling dibutuhkan oleh user.

Lalu ide. Kita bisa kumpulkan beberapa referensi dari aplikasi serupa.

Setelah terkumpul ide, kita bisa mulai membuatkan konsep wireframe hitam putih. Bisa di kertas maupun langsung di desain tool yang kita gunakan.

Baru selanjutnya kita berikan warna dan grafis yang detail.

Sampai disini sudah selesai. Namun kalau kamu ingin mengetahui bagaimana respon orang-orang terhadap perubahan yang kamu lakukan.

Kamu bisa test nya ke orang-orang tersebut. Ilmu sering dipanggil Usablity Test. sehingga kamu mendapatkan feedback dari mereka yang bisa digunakan untuk perbaikan berikutnya.

Pertanyaan selanjutnya tentang sisi bisnis. Untuk mencari model bisnis ini kita bisa trial dan error sehingga ketemu titik dimana user suka menggunakan aplikasi kita serta mau membayar.

Untuk teknik dan metode nya, saya sendiri kurang mendalami saya belum bisa bahas banyak.

Sepertinya ini sudah cukup panjang. Untuk pertanyaan dari partisipan berikutnya akan saya tulis di bagian 2 yaa.

Designing Digital Product / Designing @Itsavirus. My Personal Journal on 👉 blog.iosipratama.com / Chat me on Twitter @iosipratama 🐦

Designing Digital Product / Designing @Itsavirus. My Personal Journal on 👉 blog.iosipratama.com / Chat me on Twitter @iosipratama 🐦